<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BEGINNER&#039;S GUIDE TO VIDEOGRAPHY</title>
	<atom:link href="http://videografi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://videografi.wordpress.com</link>
	<description>Just another Agus Yuniarso&#039;s Weblog ...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 17:06:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='videografi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/75fe713a2c15870e23ff0d92ab8269b6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>BEGINNER&#039;S GUIDE TO VIDEOGRAPHY</title>
		<link>http://videografi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://videografi.wordpress.com/osd.xml" title="BEGINNER&#039;S GUIDE TO VIDEOGRAPHY" />
	<atom:link rel='hub' href='http://videografi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>A Beginner’s Guide to Creative Videography</title>
		<link>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-46/</link>
		<comments>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-46/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:35:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-46/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Yuniarso Selamat datang di dunia videografi. Sebuah dunia yang sangat menyenangkan, penuh daya tarik, menantang kreatifitas, dan membantu kita dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Dengan teknik videografi yang kreatif dan komunikatif, kita bisa mengabadikan beragam peristiwa di sekitar &#8230; <a href="http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-46/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=9&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#333399">Oleh: Agus Yuniarso</font></p>
<p><font size="2" color="#00007f">Selamat datang di dunia videografi. Sebuah dunia yang sangat menyenangkan, penuh daya tarik, menantang kreatifitas, dan membantu kita dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Dengan teknik videografi yang kreatif dan komunikatif, kita bisa mengabadikan beragam peristiwa di sekitar kita, menciptakan beragam karya dan media yang bukan saja bisa dipandang, namun juga didengar. Dengannya, kita bisa bercerita, berbagi informasi, menghibur, menularkan pengetahuan, bahkan mempengaruhi orang lain.</p>
<p></font><font size="2">Bagaimana menciptakan karya videografi yang kreatif, komunikatif dan layak ditonton ?</p>
<p>Panduan sederhana ini mengajak Anda untuk mengenal dan memahami prinsip-prinsip dasar videografi untuk dipraktekkan dengan menggunakan kamera genggam (<em>handycam</em>). Mengapa kamera genggam ? Karena inilah jenis kamera video yang paling banyak dijumpai dan dipergunakan, paling banyak populasinya, mudah didapat dan bisa dioperasikan oleh siapa saja. Meski demikian – karena bersifat universal &#8211; prinsip-prinsip dasar videografi dalam panduan ini bisa diterapkan untuk jenis kamera apa saja.</p>
<p>Penting untuk dipahami bahwa peralatan yang lebih baik ( katakanlah lebih profesional, lebih canggih, atau mungkin lebih mahal ) tidak menjamin hasil rekaman video yang lebih baik. Semua tergantung pada &#8220;<em>man behind the camera</em>&#8220;. Siapa yang berada di belakang kamera ? Apakah dia bisa menangkap momen-momen penting dan menarik ? Apakah rekaman gambar enak dinikmati, atau setidaknya bisa dinikmati ? Peralatan yang sederhana, jika dipergunakan dengan cara yang benar dan pada situasi yang tepat akan menghasilkan karya videografi yang sempurna sesuai kebutuhan dan tujuan penggunaannya.</p>
<p>Rekaman video yang sempurna, bisa dilakukan dengan hampir semua kamera, karena tidak terlalu dipengaruhi oleh kualitas piranti videografi atau jenis kamera yang tersedia. Piranti videografi yang sederhana biasanya memiliki sejumlah keterbatasan. Tapi selalu ada cara untuk menyiasatinya. Dengan teknik merekam gambar yang baik, pendekatan kreatif dan komunikatif, hasil rekaman video Anda akan tampil lebih sempurna dan bercitarasa profesional.</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/videografi.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/videografi.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/videografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/videografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/videografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/videografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/videografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/videografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/videografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/videografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/videografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/videografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/videografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/videografi.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/videografi.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/videografi.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=9&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-46/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94457aa20a013fc0525ff16b1394d947?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agus Yuniarso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Videografer: Amatir vs. Profesional</title>
		<link>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-47/</link>
		<comments>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-47/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:31:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-47/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Yuniarso Videografer Amatir atau Videografer Profesional, sebetulnya hanyalah istilah dan status semata. Sayangnya, seolah ada anggapan jika videografer amatir hasilnya pasti tidak bagus. Dan karena merasa hanya amatiran, seseorang merasa sah-sah saja jika rekaman videonya tidak bagus. Sebaliknya, &#8230; <a href="http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-47/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=8&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#333399">Oleh: Agus Yuniarso</font></p>
<p><font size="2">Videografer Amatir atau Videografer Profesional, sebetulnya hanyalah istilah dan status semata. Sayangnya, seolah ada anggapan jika videografer amatir hasilnya pasti tidak bagus. Dan karena merasa hanya amatiran, seseorang merasa sah-sah saja jika rekaman videonya tidak bagus. Sebaliknya, ada anggapan bahwa videografer profesional pasti bisa menghasilkan gambar-gambar yang bagus. Belum tentu seperti itu. <span id="more-8"></span></p>
<p>Dalam dunia videografi – sebagaimana berlaku juga dalam bidang lain – profesionalisme sebetulnya lebih merupakan prinsip dan itikad bagaimana kita bekerja dan berkarya secara sempurna dengan kaidah, mekanisme dan standar kualifikasi tertentu.</p>
<p>Para videografer profesional yang menjadikan videografi sebagai sebuah profesi, atau setidaknya yang menyebut dirinya videografer profesional, sebetulnya belum tentu menghasilkan gambar-gambar yang bagus (banyak contoh bisa dilihat di layar televisi, khususnya televisi lokal). Sebaliknya, meski hanya ditujukan untuk kepentingan nonprofit dan sekedar kesenggangan, belum tentu seorang videografer amatir tidak bisa menciptakan gambar-gambar dengan citarasa profesional. Artinya, <em>professional look</em> bisa didapat oleh siapa saja.</p>
<p>Kemudahan yang disediakan oleh perkembangan teknologi videografi digital, membuat setiap orang mampu (atau merasa mampu) melakukan apa saja selama piranti tersedia, meski terkadang mengabaikan atau tidak menyadari prinsip-prinsip dasarnya, baik secara teknis maupun estetis.</p>
<p>Begitu juga dalam hal piranti videografi. Profesionalisme tidak dibedakan oleh jenis kamera yang digunakan. Apakah karya videografi Anda akan berkesan amatir atau profesional, sangat tidak tergantung pada jenis dan standard kamera yang digunakan. Piranti hanya membatasi untuk apa hasil akhir akan digunakan. Inipun tidak mutlak benar. Dalam kondisi tertentu (dalam aktifitas jurnalistik, misalnya), terkadang tujuan profesional dapat dipenuhi dengan piranti videografi amatir (bahkan oleh videografer amatir dengan teknik videografi amatiran). Sebaliknya, meski hanya menggunakan kamera amatiran, Anda tetap bisa menghasilkan gambar-gambar yang menarik dengan citarasa profesional.</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/videografi.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/videografi.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/videografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/videografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/videografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/videografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/videografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/videografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/videografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/videografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/videografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/videografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/videografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/videografi.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/videografi.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/videografi.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=8&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-47/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94457aa20a013fc0525ff16b1394d947?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agus Yuniarso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merekam Video Dengan Sempurna dan Layak Ditonton</title>
		<link>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/merekam-video-dengan-sempurna-dan-layak-ditonton/</link>
		<comments>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/merekam-video-dengan-sempurna-dan-layak-ditonton/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/merekam-video-dengan-sempurna-dan-layak-ditonton/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Yuniarso Apa yang bisa kita lakukan dengan sebuah kamera video dalam genggaman ? Umumnya, hanya ada 2 hal mengapa kita membutuhkan dan menggunakan kamera video. Pertama, mengabadikan sesuatu. Dan yang kedua, menciptakan sesuatu. Lalu, apa yang bisa diabadikan &#8230; <a href="http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/merekam-video-dengan-sempurna-dan-layak-ditonton/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=7&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#333399">Oleh: Agus Yuniarso</font></p>
<p><font size="2">Apa yang bisa kita lakukan dengan sebuah kamera video dalam genggaman ? Umumnya, hanya ada 2 hal mengapa kita membutuhkan dan menggunakan kamera video. Pertama, <strong>mengabadikan sesuatu</strong>. Dan yang kedua, <strong>menciptakan sesuatu</strong>. Lalu, apa yang bisa diabadikan dan apa yang bisa diciptakan ? Peluang dan kesempatan untuk ini hampir-hampir tanpa batas. Yang membatasi hanyalah kebutuhan, kreatifitas dan kesenggangan.</p>
<p>Dengan kamera video, kita bisa merekam dan <strong>mengabadikan beragam peristiwa dan adegan</strong> dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi dan berlangsung di sekitar kita. Tidak harus peristiwa yang sangat penting atau menarik. Mengabadikan berarti menyimpan sesuatu pada saat ini, untuk dipergunakan atau dinikmati pada suatu saat nanti. Entah esok hari, lusa, atau puluhan tahun lagi. Peristiwa dan adegan biasa-biasa saja yang terjadi pada hari ini, mungkin akan menjadi sangat penting dan menarik pada suatu saat nanti.</p>
<p>Dengan kamera video, kita juga bisa <strong>menciptakan beragam karya videografi</strong> untuk mengekspresikan kreatifitas, perasaan dan beragam gagasan, serta <strong>menciptakan beragam media komunikasi</strong> yang akan membantu beragam tujuan kita pada berinteraksi dengan orang lain. Dari sebuah karya dan program videografi yang kreatif dan komunikatif, kita bisa bercerita, berbagi informasi, menghibur, menularkan pengetahuan, bahkan mempengaruhi orang lain. <span id="more-7"></span></p>
<p>Masalahnya adalah bagaimana menciptakan karya dan program videografi – atau minimal rekaman video – yang sempurna dan layak ditonton ? Apapun jenis kamera yang Anda pergunakan, langkah dan tahapan-tahapan berikut ini akan membantu menyempurnakan dan memperbaiki hasil rekaman video Anda, sekaligus meningkatkan pemahaman serta ketrampilan dalam menggunakan teknologi dan media videografi secara kreatif dan komunikatif dan bercitarasa profesional.</p>
<p><strong>Level 1 : Kenali dan Pahami Kamera Video Anda.</p>
<p></strong>Tentu Anda tidak akan mampu menciptakan rekaman apapun, jika tidak mengenal dan memahami cara kerja piranti yang Anda gunakan. Cara menguasai pengoperasian kamera bisa dikatakan sangat mudah. Setiap kamera video di masa kini sudah diciptakan sedemikian rupa otomatisnya, hingga seorang anak TK-pun bisa segera memahami dan melakukannya dalam hitungan menit.</p>
<p>Perlu dicatat, meski kamera setiap jenis kamera dilengkapi dengan berbagai fasilitas, namun tidak semua fasilitas yang ada harus digunakan. Letak tombol dan menu untuk setiap jenis kamera mungkin berbeda, tetapi pada umumnya fungsi sama.</p>
<p><strong>Level 2 : Rekaman Video yang Layak Dilihat dan Disimpan</p>
<p></strong>Rekaman video dikatakan layak untuk dilihat dan disimpan jika memenuhi 4 syarat : <strong>cukup pencahayaan</strong>, <strong>fokus</strong>, <strong>stabil</strong> dan <strong>cukup durasi</strong>. Syarat-syarat ini hanya bisa diabaikan jika rekaman video tersebut memiliki nilai tertentu (penting dan/atau menarik) atau mengabadikan peristiwa atau adegan yang istimewa dalam kondisi darurat. Jika tidak terlalu istimewa, maka rekaman video yang tidak memenuhi syarat tersebut bisa dikatakan tidak layak dilihat atau disimpan.</p>
<p><strong>Level 3 : Rekaman Video yang Layak Dinikmati</p>
<p></strong>Sebagaimana fotografi, dunia videografi juga memiliki kaidah-kaidah baku yang berkaitan dengan komposisi dan penataan subyek dalam bingkai gambar (<em>frame</em>). Kaidah-kaidah ini menjadi semacam gramatika tersendiri dalam komunikasi antara videografer dengan penonton karya-karyanya. Dalam proses produksi, kaidah-kaidah ini juga menjadi acuan kesepahaman antara seorang produser, sutradara, penulis naskah, kameraman, dll. Sebuah rekaman video dikatakan layak untuk dinikmati jika disajikan dengan mengikuti kaidah-kaidah baku dalam dunia videografi, yang secara umum tidak berbeda jauh dengan yang berlaku dalam dunia fotografi.</p>
<p><strong>Balance, Framing, Compositions : Horizontal Lines, Vertical Lines, Thirds Ratio, Diagonal Lines, Triangle, Perspective, Looking Room, Walking Room, Head Room, Golden Mean, Background, Foreground.</p>
<p></strong><strong>Frame Cutting Points : Extreme Close Up, Big Close Up, Close Up, Medium Close Up, Medium Shot, Medium Long Song, Long Shot, Extreme Long Shot.</p>
<p></strong><strong>Other Types Of Shot : 2 Shot, 3 Shot, Group Shot, Over Shoulder Shot, Establishing Shot.</p>
<p></strong><strong>Camera Movement : Panning ( Left, Right, Up, Down ), Tracking ( In, Out, Follow, Revolve ), Truck ( Left, Right ), Zooming ( In, Out )</p>
<p></strong><strong>Camera Angle # 1 : Normal Angle, Low Angle, High Angle</p>
<p></strong><strong>Camera Angle # 2 : Objective Camera, Subjective Camera</p>
<p></strong><strong>Shot By Camera Positions : Face Shot, ¾ Shot, Profile Shot, Over Shoulder Shot</p>
<p></strong><strong>Shooting Rules : Jump Cut, Crossing The Line, Continuity</p>
<p></strong><strong>Level 4 : Rekaman Video yang Selesai dan Layak Tonton</p>
<p></strong>Bertumpuk-tumpuk kaset video, berjam-jam durasi rekaman video, biasanya hanya tersimpan dalam almari dan lambat namun pasti berubah menjadi sampah. Rekaman video mentah (<em>stock shot</em> atau <em>master shot</em>) seperti ini tidak menarik untuk dinikmati, karena siapapun cenderung malas untuk menikmatinya (termasuk kameramannya sendiri).</p>
<p>Rekaman video yang layak untuk ditonton adalah rekaman video yang selesai dan tersaji dalam wujud karya videografi yang siap dipertontonkan. Ditonton, adalah hakekat penciptakan sebuah karya atau program videografi. Tidak berbeda dengan seorang pelukis yang telah membingkai lukisannya dan memajang di dinding atau panel galeri. Tak beda juga dengan seseorang yang menyanyi di depan orang lain atau di panggung, bukan lagi di kamar mandi.</p>
<p>Sebagai sebuah pertunjukan, karya videografi yang siap dipertontonkan disajikan dengan kaidah logis sebuah proses penyajian. Ada awalan atau pembuka, dilanjutkan dengan isi atau materi inti dan diakhiri dengan sajian penutup. Rangkaian ini secara keseluruhan memberi informasi kepada penonton tentang apa yang sedang ditontonnya.</p>
<p>Dalam format sajian yang paling sederhana, sebuah judul di bagian depan, rangkaian gambar yang tersusun pada batang tubuhnya dan <em>credit title</em> yang muncul pada bagian akhir, sudah bisa memberikan status selesai dan siap tonton pada sebuah rekaman video. Selebihnya adalah masalah kreatifitas sesuai dengan kebutuhan dan tujuan produksi karya videografi tersebut.</p>
<p>Sebuah karya videografi yang selesai dan siap ditonton umumnya melewati tahap-tahap berikut ini:</p>
<p><strong>Pra Produksi : Proses perencanaan dan persiapan produksi sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan khalayak sasaran yang dituju. Meliputi persiapan fasilitas dan teknik produksi, mekanisme operasional dan desain kreatif ( riset, penulisan <em>outline</em>, skenario, <em>storyboard</em>, dsb.).</p>
<p></strong><strong>Produksi : Proses pengambilan gambar di lapangan (<em>shooting</em>).</p>
<p></strong><strong>Pasca Produksi : Proses penyuntingan di ruang editing, memadukan hasil rekaman video dengan berbagai elemen audio visual lainnya.</p>
<p></strong><strong>Presentasi : Menyajikan hasil penyuntingan (<em>editing</em>) dalam format siap tonton (kaset, VCD, DVD, dsb.)</p>
<p></strong><strong>Distribusi : Penyebarluasan karya videografi (<em>screening</em>, penjualan, <em>broadcasting</em>, <em>webcasting</em>, dsb.).</p>
<p></strong></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/videografi.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/videografi.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/videografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/videografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/videografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/videografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/videografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/videografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/videografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/videografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/videografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/videografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/videografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/videografi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/videografi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/videografi.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=7&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/merekam-video-dengan-sempurna-dan-layak-ditonton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94457aa20a013fc0525ff16b1394d947?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agus Yuniarso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesalahan Umum Videografer Pemula ( Bukan Videografer Amatir )</title>
		<link>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-49/</link>
		<comments>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-49/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Aug 2007 07:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-49/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Agus Yuniarso Hampir setiap orang terbiasa menyaksikan rekaman video dan tayangan televisi dengan penyajian gambar yang baku dan sempurna. Mereka bisa menilai bagus atau tidaknya, serta enak atau tidaknya sebuah tampilan gambar di layar televisi. Namun pada saat memegang &#8230; <a href="http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-49/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=6&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#333399">Oleh: Agus Yuniarso</font></p>
<p><font size="2">Hampir setiap orang terbiasa menyaksikan rekaman video dan tayangan televisi dengan penyajian gambar yang baku dan sempurna. Mereka bisa menilai bagus atau tidaknya, serta enak atau tidaknya sebuah tampilan gambar di layar televisi. Namun pada saat memegang kamera dan merekam video, tidak setiap orang mampu menciptakan gambar yang bagus dan enak ditonton. Bahkan mungkin tidak pernah menyadari bahwa rekaman video yang dihasilkannya tidak bagus dan tidak enak ditonton. Berikut adalah beberapa contoh kesalahan umum para videografer pemula. Ya, videografer pemula, bukan videografer amatir. Karena yang amatir – Anda mungkin ada diantaranya – belum tentu tidak bisa menghasilkan gambar-gambar profesional. <span id="more-6"></span></p>
<p><strong>Merekam Gempa Bumi dan Pentas Dangdut</p>
<p></strong>Gempa bumi tidak setiap saat terjadi. Namun, setiap peristiwa atau adegan yang direkam seolah-olah selalu berlangsung pada saat terjadi gempa bumi. Atau seolah terjadi di seputar pentas dangdut. Semua serba goyang, termasuk videografernya. Gambar-gambar yang selalu bergoyang, tidak stabil, terkadang tidak fokus dan cenderung acak-acakan. Ini adalah bentuk kesalahan mendasar dan kebiasaan merekam tanpa rencana, sehingga merekam apa saja yang ada di depan kamera, namun tidak jelas apa yang menjadi subyeknya. Bahkan mungkin si videografer sendiri tidak tahu apa yang direkamnya.</p>
<p><strong>Merekam Sambil Jogging</p>
<p></strong>Kebiasaan merekam video sambil berjalan, jika tidak dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai dengan kebutuhan, umumnya akan menghasilkan rekaman video yang tidak nyaman untuk dinikmati. Subyek seolah memantul naik turun, disertai goyangan tak beraturan. Merekam gambar dengan pergerakan seperti ini sebetulnya sangat menarik dan memberikan efek dramatis. Syaratnya, stabilitas pergerakan horizontal harus lebih diutamakan sambil sebisa mungkin meminimalisir pergerakan vertikal.</p>
<p><strong>Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dan Menembak</p>
<p></strong>Meski sama-sama dilakukan dengan cara membidik, merekam video berbeda dengan menembak. Menempatkan subyek tepat di tengah-tengah bingkai gambar (<em>frame</em>) akan sangat bagus dan tepat sasaran pada saat Anda menembak dengan senapan. Tetapi dalam hal videografi, ini adalah cara pengambilan gambar yang tidak diajurkan, karena hasilnya akan cenderung membosankan. Ini adalah salah satu kesalahan mendasar dalam hal pembingkaian (<em>framing</em>) dan komposisi.</p>
<p><strong>Mengikat Diri di Tiang Bendera</p>
<p></strong>Kebiasaan merekam video dengan berdiri terpaku di satu titik, tanpa berpindah posisi, seolah merekam di tengah upacara, dalam kondisi terikat di tiang bendera. Ini akan menciptakan gambar-gambar yang statis dan monoton, karena tidak menawarkan variasi sudut pandang atau komposisi lain yang mungkin jauh lebih menarik. Juga kebiasaan hanya merekam sebatas level pandangan mata (<em>standing eye level</em>), meski sebetulnya akan lebih menarik jika suatu subyek diambil dari sudut alternatif (<em>high angle</em> atau <em>low angle</em>). Bukan sebuah kesalahan fatal, namun sekali lagi cenderung membosankan. Ini adalah contoh kebiasaan salah yang berkaitan dengan sudut pengambilan gambar (<em>angle</em>).</p>
<p><strong>Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dan Menyetrika</p>
<p></strong><em>Zoom adalah fasilitas dasar yang sangat membantu dan memudahkan dalam pengoperasian kamera video. Dengan <em>zooming</em>, kita bisa mendekati subyek (<em>tele</em>) atau menjauhi obyek (<em>wide</em>) tanpa harus berpindah tempat. Namun penggunaan fungsi zoom yang berlebihan dan dengan cara yang tidak semestinya, akan menghasilkan rekaman video yang tidak nyaman ditonton. Subyek tiba-tiba mendekat, lalu menjauh, lalu mendekat lagi. Maju, mundur, maju lagi, mundur lagi, persis seperti setrika. Ini adalah contoh kesalahan penggunaan fasilitas kamera.</p>
<p></em><strong>Merekam Video di Zebra Cross</p>
<p></strong>Bayangkan seseorang yang akan menyeberang jalan di <em>zebra cross</em>. Tengok kanan, tengok kiri. Merasa belum yakin, tengok kanan lagi, tengok kiri lagi. Bahkan setelah berjalan di <em>zebra cross</em> pun orang masih melakukannya untuk memastikan apakah jalan benar-benar aman. Tengok kanan kiri adalah kebiasaan bagus jika seseorang akan menyeberang jalan raya. Tapi merekam video dengan cara serupa, tidak akan menghasilkan rekaman yang menarik untuk ditonton. Terlalu banyak <em>panning</em> dalam satu <em>shot</em> ( satu ambilan gambar dalam satu rekaman), baik ke kiri ke kanan atau ke atas ke bawah (<em>tilt</em>) adalah contoh kebiasaan buruk dalam merekam gambar. Terlebih jika digabungkan dengan zoom in dan / atau zoom out. Sebuah contoh kesalahan dalam pergerakan kamera (<em>camera movement</em>).</p>
<p><strong>Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dengan Memotret</p>
<p></strong>Berbeda dengan kamera foto yang merekam sebuah momen, kamera video merekam sebuah proses dinamis atau aksi (<em>action</em>), sehingga menghasilkan gambar bergerak (dan bersuara). Kebiasaan mengabadikan sebuah momen pada saat memotret, acapkali terbawa pada saat mempergunakan kamera video. Hasilnya adalah hasil rekaman video dengan durasi yang terlalu pendek dalam setiap <em>shot</em> (satu ambilan gambar dalam satu rekaman). <em>Shot</em> yang terlalu pendek tidak nyaman untuk dinikmati, karena tidak memberikan waktu yang cukup bagi penonton untuk memahami detil subyek yang ditampilkan. <em>Shot</em> yang terlalu pendek juga akan menimbulkan kesulitan dalam proses pasca produksi (<em>editing</em>).</p>
<p><strong>Merekam Tokoh Misterius</p>
<p></strong>Menempatkan subyek penting (umumnya manusia) pada bagian depan dengan latar belakang yang lebih kuat pencahayaannya. Kebiasaan atau ketidaksadaran dengan situasi <em>backlight</em> seperti ini (dan tidak segera melakukan antisipasi), akan menciptakan siluet dan sosok-sosok misterius. Rekaman video yang terlalu sering atau terlalu lama dalam kondisi <em>backlight</em>, sudah pasti tidak akan nyaman ditonton dan kehilangan kesan profesional. Sebuah contoh kesalahan umum dalam hal pencahayaan (<em>lighting</em>).</p>
<p>Apakah Anda pernah atau masih mengalami salah satu diantaranya ?</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/videografi.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/videografi.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/videografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/videografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/videografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/videografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/videografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/videografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/videografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/videografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/videografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/videografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/videografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/videografi.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/videografi.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/videografi.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=6&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://videografi.wordpress.com/2007/08/23/artikel-49/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94457aa20a013fc0525ff16b1394d947?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agus Yuniarso</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Merekam Video Dengan Sempurna *)</title>
		<link>http://videografi.wordpress.com/2007/08/21/artikel-50/</link>
		<comments>http://videografi.wordpress.com/2007/08/21/artikel-50/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 06:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Yuniarso</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://videografi.wordpress.com/2007/08/21/artikel-50/</guid>
		<description><![CDATA[Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah manual focus. Atur white balance pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber pencahayaan. Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor shooting), posisikan matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya. Rencanakan ambilan gambar (shot) &#8230; <a href="http://videografi.wordpress.com/2007/08/21/artikel-50/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=4&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"></p>
<ol>
<li>Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah <strong><em>manual focus</em></strong>.</li>
<li>Atur <strong><em>white balance</em></strong> pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber pencahayaan.</li>
<li>Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (<em>outdoor shooting</em>), posisikan matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya.</li>
<li>Rencanakan ambilan gambar (<em>shot</em>) Anda. Sebaiknya, jangan mulai merekam gambar sebelum Anda siap merekam gambar dengan sempurna. Dan yang lebih penting subyek rekaman Anda siap untuk direkam (komposisi, focus, pecahayaan, dsb. ).</li>
<li>Gunakan tripod atau alat bantu lainnya.</li>
<li>Dalam kondisi rekaman tanpa alat bantu (<em>handhelds</em>), pegang dan kendalikan kamera video Anda sedemikian rupa agar hasil rekaman tetap stabil (andaikan sebagai secangkir kopi panas).</li>
<li>Gunakan <strong><em>zooming</em></strong> hanya untuk menata komposisi ambilan gambar. Hindari penggunaannya pada saat merekam (<em>rolling</em>), kecuali jika ada maksud untuk tujuan tertentu atau memang disengaja karena hasil rekaman akan diproses lebih lanjut (<em>editing</em>).</li>
<li>Shoot to edit. Pastikan untuk memproses lebih lanjut setiap hasil rekaman Anda (editing). Untuk itu, rekaman video harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa agar siap untuk diproses lebih lanjut (variasi dan kelengkapan gambar, durasi setiap shot, menghindari fasilitas kamera yang tidak diperlukan, dsb.)Jaga durasi setiap <em>shot</em>. Jangan terlalu panjang dan monoton (tanpa variasi), namun juga jangan terlalu pendek. Minimal antara 8 hingga 10 detik. Tidak ada batas maksimal karena tergantung <em>action</em> yang direkam. Namun sebaik sudah mulai merekam 3 hingga 5 detik sebelum <em>action</em> berlangsung. Berikan durasi yang sama setelah <em>action</em> berlangsung.</li>
<li>Jaga setiap shot dalam kondisi steady tanpa pergerakan kamera, setidaknya selama 10 detik. Jika suatu <em>shot </em>akan berisi pergerakan kamera, berikan awalan dan akhiran dalam kondisi <em>steady</em> dengan durasi setidaknya 3 hingga 5 detik.</li>
<li>Pada saat merekam, selalu antisipasi pergerakan subyek atau apa yang akan dilakukannya.</li>
</ol>
<p></font><font size="2" color="#00007f">*) Naskah Agus Yuniarso dalam Apresiasi Praktis Videografi untuk Staf Komisi Pemilihan Umum DIY yang diselenggarakan oleh Program Profesi Fotografi, Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY), 21 Juni 2007. Posting lain dari even yang sama :</font><font size="2" color="#00007f"> </font><font size="2" color="#00007f">1. A Beginner’s Guide to Creative Videography</p>
<p>2. Videografer: Amatir vs. Profesional</p>
<p>3. Merekam Video Dengan Sempurna dan Layak Ditonton</p>
<p>4. Kesalahan Umum Videografer Pemula ( Bukan Videografer Amatir )</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/videografi.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/videografi.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/videografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/videografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/videografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/videografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/videografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/videografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/videografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/videografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/videografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/videografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/videografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/videografi.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/videografi.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/videografi.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=videografi.wordpress.com&amp;blog=1444028&amp;post=4&amp;subd=videografi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://videografi.wordpress.com/2007/08/21/artikel-50/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/94457aa20a013fc0525ff16b1394d947?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agus Yuniarso</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
