Videografer: Amatir vs. Profesional

Oleh: Agus Yuniarso

Videografer Amatir atau Videografer Profesional, sebetulnya hanyalah istilah dan status semata. Sayangnya, seolah ada anggapan jika videografer amatir hasilnya pasti tidak bagus. Dan karena merasa hanya amatiran, seseorang merasa sah-sah saja jika rekaman videonya tidak bagus. Sebaliknya, ada anggapan bahwa videografer profesional pasti bisa menghasilkan gambar-gambar yang bagus. Belum tentu seperti itu.

Dalam dunia videografi – sebagaimana berlaku juga dalam bidang lain – profesionalisme sebetulnya lebih merupakan prinsip dan itikad bagaimana kita bekerja dan berkarya secara sempurna dengan kaidah, mekanisme dan standar kualifikasi tertentu.

Para videografer profesional yang menjadikan videografi sebagai sebuah profesi, atau setidaknya yang menyebut dirinya videografer profesional, sebetulnya belum tentu menghasilkan gambar-gambar yang bagus (banyak contoh bisa dilihat di layar televisi, khususnya televisi lokal). Sebaliknya, meski hanya ditujukan untuk kepentingan nonprofit dan sekedar kesenggangan, belum tentu seorang videografer amatir tidak bisa menciptakan gambar-gambar dengan citarasa profesional. Artinya, professional look bisa didapat oleh siapa saja.

Kemudahan yang disediakan oleh perkembangan teknologi videografi digital, membuat setiap orang mampu (atau merasa mampu) melakukan apa saja selama piranti tersedia, meski terkadang mengabaikan atau tidak menyadari prinsip-prinsip dasarnya, baik secara teknis maupun estetis.

Begitu juga dalam hal piranti videografi. Profesionalisme tidak dibedakan oleh jenis kamera yang digunakan. Apakah karya videografi Anda akan berkesan amatir atau profesional, sangat tidak tergantung pada jenis dan standard kamera yang digunakan. Piranti hanya membatasi untuk apa hasil akhir akan digunakan. Inipun tidak mutlak benar. Dalam kondisi tertentu (dalam aktifitas jurnalistik, misalnya), terkadang tujuan profesional dapat dipenuhi dengan piranti videografi amatir (bahkan oleh videografer amatir dengan teknik videografi amatiran). Sebaliknya, meski hanya menggunakan kamera amatiran, Anda tetap bisa menghasilkan gambar-gambar yang menarik dengan citarasa profesional.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

13 Responses to Videografer: Amatir vs. Profesional

  1. ahmad yani says:

    buku pandua

  2. antie says:

    saya setuju dengan pendapat mas agus. karena ikut pelatihan broadcast dan bertukar pikiran dengan mas agus jd lebih semangat lg untuk membuat karya2 video…

    mas… kapan2 ke riau lagi yah!!!

  3. Beng St. says:

    Setubuh… eh, setujuh!!!
    kapan shooting ke Bali mas ? 🙂

  4. TJ says:

    pak agus saya mohon ijin untuk mempergunakan article mas agus di Block ini untuk untuk rujukan bahan mengajar biar saya punya sumber tertulis yang valid dan kreatif thanks sebelumnya

  5. TJ says:

    oh ya kalo mo ketemu pak agus secara on line biasanya pak agus chat via apa karena sekarang saya ngajar di sebuah lpk yang di lengkapi intenet yang online 24 Jam
    makasih

  6. Anda dapat mengunjungi situs blog saya di televisiana.net. Ada link disana untuk chatting. Thanks.

  7. agam says:

    dari mana sih istilah amatir dan profesional kalau di tarik kebelakang. coba secara umum kalau kita menanyakan sebagian besar penonton film/video di Indonesia. pasti mereka menyebut satu, yaitu hollywood.

  8. Miayam says:

    saya sungguh sangat amatir nih.. tapi tetep berusaha untuk terus belajar otodidak.. dan rasanya kalau dalam 1 minggu gak ambil gambar jadi pening nih kepala.. sukses ya.., amien

  9. pandu dewanata says:

    isi tulisannya terlalu naormatif, gak spesifik…gak ada contoh kngkritnya….

  10. mohon ijin pak agus untuk artikelnya saya link ke blog saya

  11. sandhy says:

    sebenarnya, pengertian dari videografi sendiri tu apa sih……? thank’s

  12. dampalcom says:

    Kalau menurut saya agak berbeda, amatir dan professional bukan dilihat dari alatnya, tapi hasilnya. Alatnya sekedar penunjang saja, sedang videografernya yang berperan. Dalam hal ini jika videonya bisa menghasilkan uang ( walaupun shooting via handpone ) untuk videografernya sudah bisa disebut professional, tinggal kembali pada orangnya ingin disebut sebagai videografer professional yang sesungguhnya ? ya usaha kamera yang bagus walaupun ngutang, kan kalau nanti banyak job, bisa mencicil utangnya.
    SUTARNO – Dampalcom Professional Video dan Photografer ( Kendal ).

  13. SI says:

    “Sebaliknya, meski hanya menggunakan kamera amatiran, Anda tetap bisa menghasilkan gambar-gambar yang menarik dengan citarasa professional”.
    kalimat terakhir ada yang bisa membedakan kamera amatir dan professional

    mungkin bisa dijelaskan juga alat consumer product, alat professional product, alat broadcasting product, dan alat cinema product.

    Profesional hidup dari profesinya, Amatir = hobby

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s